Iklans.com - “Jangan melawan manis, kalau ingin selamat!!”, ancam lelaki yang menodongkan belati di lehernya sambil mencengkram kedua tangan gadis itu dengan tangan yang satunya lagi.
Lelaki yang membekap mulut gadis itu mengeluarkan sehelai kain dari saku celananya lalu dengan serta merta membungkam mulut mungil dara belia cantik sang mempelai wanita ini.
“Mmmpphh..!”, hanya suara itu yang terdengar di balik rontaannya melawan niat busuk lelaki-lelaki itu, namun apalah dayanya karena sebentar saja mulutnya telah tersumpal oleh kain yang dijejali lelaki besar yang sangat kekar itu. Sedangkan lelaki keduanya kini menelikung kedua belah tangan si gadis ke belakang punggungnya dan mengikatnya dengan seutas tambang kecil yang agaknya telah dipersiapkan untuk melumpuhkan korbannya. Sekejap saja gadis itu telah dibuat tak berdaya oleh mereka dan hanya menyisakan suara-suara yang tak jelas maknanya dibalik gumpalan kain yang memenuhi rongga mulutnya.
“Hahaha.. beruntung sekali kita boss! Sudah merampok, dapat gadis pula..”, seringai lelaki yang menghunus belati tadi kepada lelaki kekar perkasa bertubuh gelap yang ternyata adalah pemimpin kepala rampok itu. Tampak tonjolan otot-otot lengannya yang begitu perkasa dibalik kaosnya yang berwarna gelap di dalam kamar membuatku iri dengan tubuh kejantanannya itu.
“Jangan khawatir.. kalian nanti akan kubagi pula kesenangan ini, sekarang ayo cepat baringkan dia diatas kasur!!”, perintah kepala rampok itu dengan parang masih berada dipinggangnya. Berdua mereka membaringkan paksa tubuh dara pengantin baru itu yang sudah dalam keadaan terikat lengkap dengan busana pengantinnya tersebut hingga terlentang.
Kedua belah kaki gadis itu yang masih bersepatu pengantinnya berusaha menendang-nendang tubuh kedua pelaku, tetapi tangan-tangan kekar mereka menangkap kaki-kaki indah miliknya serta mengikat kedua belah mata kakinya ke tiang kelambu ranjang pelaminan tersebut kiri dan kanan, sehingga kini gadis itu terkangkang di atas ranjang mahligai perkawinannya sendiri.
Gadis itu membanting-bantingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta berharap untuk bisa lepas dari keadaannya yang telah terikat erat kedua tangannya ke belakang punggungnya itu. Namun jeratan utas tambang itu semakin dirasanya semakin kuat membelenggu pergelangan kedua tangan dan kakinya, sementara kedua lelaki didepannya tertawa-tawa menyeringai kegirangan mendapati ketakberdayaan dirinya itu.
Akupun terkesiap mendapati kenyataan ini, karena tak pernah kubayangkan bahwa aku akan menyaksikan peristiwa kriminalitas secara nyata yang mana aku adalah sebagai saksi matanya sendiri. Malam pengantin yang kuimpikan antara gadis tadi bersama suaminya telah pupus sudah. Kini yang terpampang di mataku adalah tragedi yang menimpa sepasang pengantin baru di hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan baru bagi mereka. Dari balik celah dinding itu aku melihat derai air mata gadis itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang putih mulus membuyarkan dandanan di wajahnya yang semakin manis di pandang itu, namun wajahnya dalam posisi itu membelakangiku sehingga aku hanya dapat menatap permukaan wajahnya saja dari celah atas dinding kamarku.
erkait
Kepala rampok itu mengelus-elus paha putih korbannya yang masih terbalut stocking hitam panjang dan menikmati setiap sentuhan jarinya pada permukaan kulit paha sang dara belia diantara selusupan tangan kekarnya kedalam isi gaun pengantin perempuan itu yang berwarna putih berkilat. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya pada sepatu yang dikenakan gadis muda sang mempelai wanita dengan wajah penuh gairah kelelakiannya. Lanjut baca!

0 Response to "Kisah Mesum Tragedi Malam Pengantin 2"
Posting Komentar